Exclusive from Good News From Indonesia

Mereka Mendaki Gunung untuk Memberi Makan Mereka yang Lapar...

“Sungai meluap ketika hujan, bahkan perahu pun tidak bisa menyeberang,” kata Delia Rodriguez. "Kita bahkan tidak bisa menyeberangi sungai untuk
General
Thu Dec 06 2018 06:57:00 GMT+0000 (UTC)

“Sungai meluap ketika hujan, bahkan perahu pun tidak bisa menyeberang,” kata Delia Rodriguez. "Kita bahkan tidak bisa menyeberangi sungai untuk membeli makanan."

Delia berasal dari suku Dumagat, salah satu masyarakat suku pedalaman yang tinggal di Provinsi Bulacan, wilayah yang sulit dijangkau di Filipina.

Delia menambahkan, “Bahkan kami tidak memiliki akses listrik.”

Masyarakat adat yang tinggal di daerah terpencil tak jarang menghadapi kesulitan dalam dalam mengakses makanan bergizi, pendidikan, dan pekerjaan. Foto: Our Better World
Masyarakat adat yang tinggal di daerah terpencil tak jarang menghadapi kesulitan dalam dalam mengakses makanan bergizi, pendidikan, dan pekerjaan. Foto: Our Better World

Melihat kesulitan yang dihadapi masyarakat suku pedalaman di Filipina, Bimboy Soque tergerak untuk mendirikan organisasi Tribu Ni Bro. Tribu Ni Bro melakukan misi membawa bahan-bahan makanan dan perlengkapan sekolah ke ke daerah-daerah terpencil di pegunungan.

Bimboy masih ingat saat suatu hari ia memberikan semangkuk sup kepada seorang anak laki-laki, anak tersebut membaginya dengan sembilan orang anggota keluarganya di rumah.

“Padahal ia belum makan selama tiga hari,” kata Bimboy pada Our Better World, program kisah inspiratif dari Singapore International Foundation.

“Bayangkan sembilan orang berbagai satu mangkuk sup.”

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Program/UNDP) memperirakan terdapat sekitar 14 juta hingga 17 juta masyarakat adat di Filipina dengan 110 bahasa daerah. Mereka yang tinggal di daerah terpencil tak jarang menghadapi kesulitan dalam dalam mengakses makanan bergizi, pendidikan, dan pekerjaan.

Mengunjungi desa suku Dumagat bisa menempuh waktu perjalanan antara empat jam hingga empat hari. Foto: Our Better World
Mengunjungi desa suku Dumagat bisa menempuh waktu perjalanan antara empat jam hingga empat hari. Foto: Our Better World

Mengunjungi desa suku Dumagat, tempat Delia tinggal, bisa menempuh waktu perjalanan antara empat jam hingga empat hari melaui hutan lebat, sungai deras, dan naik turun lereng gunung yang curam.

Selain membawa bahan-bahan makanan, Tribu Ni Bro juga menginisiasi program pemberdayaan masyarakat, mulai dari memperkenalkan listrik tenaga surya hingga pelatihan pengolahan pertanian secara intensif.

“Kita selalu mengeluh tentang hal-hal yang tidak dapat kita miliki,” kata Kathrine Mantala, salah satu sukarelawan Tribu Ni Bro.

Anak-anak suku pedalaman di Filipina. Foto: Our Better World
Anak-anak suku pedalaman di Filipina. Foto: Our Better World

“Tetapi ketika saya pergi ke sana [untuk menjadi sukarelawan], saya melihat betapa bahagianya mereka [masyarakat suku pedalaman] dengan hal-hal sederhana.”

Kini, Inisiatif Tribu Ni Bro masih didanai dari donasi masyarakat dan uang kas para anggotanya.

“Itu masih belum cukup membantu masyarakat yang kami kunjungi. Jika kami dapat mengumpulkan lebih banyak dukungan dari sponsor, saya pikir kami dapat lebih banyak membantu masyarakat suku pedalaman,” pungkas Bimboy.

Cari tahu lebih lanjut tentang Tribu Ni Bro di sini

Berikan donasi perlengkapan sekolah untuk membantu anak-anak adat pedalaman di sini

A story byOur Better World – telling stories of good to inspire action

Penulis: INDAH GILANG PUSPARANI
Dirilis pada 2018-12-06 11:39:07

Open in App