Exclusive from Good News From Indonesia

Badak Jawa Bisa “Marah” pada Manusia

Siang, 11 Februari 1980, di tengah hutan Citadahan. Ali Rahman, seorang jagawana Taman Nasional Ujung Kulon, ditugaskan mendampingi peneliti Hartman
General
Fri Jan 11 2019 14:03:00 GMT+0000 (UTC)

Siang, 11 Februari 1980, di tengah hutan Citadahan. Ali Rahman, seorang jagawana Taman Nasional Ujung Kulon, ditugaskan mendampingi peneliti Hartman Amman dan Tajudin Abdullah dari Malaysia. Kepada tamunya itu Ali bertutur, “Kata orang-orang, saat pertama kali bertemu badak pasti kita akan lari ketakutan. Tapi saya tidak, saya akan menari dengan riang,” katanya.

Tak lama Ali bercerita, tiba-tiba terdengar suara dengusan berulang disertai derakan batang pohon kecil patah. Mereka yang saat itu tengah istirahat dekat kubangan permanen seketika terdiam. Suasana makin mencekam tatkala terlihat satu individu badak jawa berlari kencang ke arah mereka.

Ali langsung lari tak tentu arah, sementara Hartmann dan Tajudin berlindung di balik rumpun pohon nibung (Oncosperma filamentosa) yang tumbuh tak jauh dari kubangan. Sang badak terperosok ke kubangan meski akhirnya bisa membebaskan diri dan berlari ke rimbunnya hutan.

Di waktu berbeda, 5 Maret 1981 sore, saya bersama Ujang yang juga jagawana berjalan menelusuri tebing dari arah Gunung Payung ke Sungai Cibunar yang tinggi airnya hanya sebetis orang dewasa. Di seberang sungai, terlihat seekor badak jantan tengah melahap daun waru laut (Thespesia populnea).

Tak sabar menunggu, Usman melempar tanah yang sudah diludahi ke arah badak, berharap satwa bercula itu akan segera pergi. Namun, badak justru datang mendekat, Usman pun berlari kencang, sejauh menungkin menghindar. “Waduh Pak Eeng, kastrol (tempat menanak nasi) kita “digigit” badak,” ujarnya.

Sepasang badak jawa di Cigenter, Ujungkulon dilukis di atas kanvas 1 X 1,5 meter pada Oktober 2018 oleh Syahdan Lubis | Foto: Haerudin R. Sadjudin
Sepasang badak jawa di Cigenter, Ujungkulon dilukis di atas kanvas 1 X 1,5 meter pada Oktober 2018 oleh Syahdan Lubis | Foto: Haerudin R. Sadjudin

Sementara di pagi yang cerah, 22 September 1983, saat berperahu bersama Jasan dan Abay di Cigenter, saya melihat seekor badak bergenang. Kami menepi, berlindung di bawah pohon ara (Ficussp.) yang rindang di tepi sungai, tepat diseberang badak istirahat.

Jasan dan Abay berbicara, sepertinya badak itu tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tak lama berselang, ketika angin berhembus dari perahu kami ke badak, pemandangan berbeda pun terjadi. Badak langsung berenang, menyerang perahu kami.Krakkkk, terdengar suara perahu diseruduk, terbalik. Jasan dan Abay terlempar, sementara saya sempat melompat, bergantung di salah satu cabang pohon.

Sadjudin (1986) menguraikan hasil pengamatan lima tahunnya (1979-1983), tentang reaksi badak jawa terhadap manusia dalam perjumpaan langsung, sebanyak 29 kali. Dengan rincian, ketika badak makan (8 kali), berkubang (3 kali), bergenang (2 kali), selebihnya ketika badak melarikan diri sebelum sempat diamati (16 kali). Hanya 3 kali dialami, ketika badak menyerang agresif.

Foto dua individu badak jawa yang berkubang di Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Hoogerwerf, A. – Dipublikasikan tahun 1970/Rhino Resource Center
Foto dua individu badak jawa yang berkubang di Taman Nasional Ujung Kulon|Foto: Hoogerwerf, A. – Dipublikasikan tahun 1970/Rhino Resource Center

Benarkah badak jawa agresif? Reaksi badak terhadap manusia pada waktu lampau telah disinggung Evans (1905), begitu juga yang telah ditulis Reynolds (1954), badak sangat agresif menyerang manusia. Meski begitu, badak seperti juga satwa lain sangat takut pada manusia. Meski terkadang, apabila terjadi perjumpaan, badak akan sangat berbahaya. Menyerang, terutama dilakukan bila sudah sangat terganggu, atau sudah merasa disakiti. Misalnya, luka akibat ditembak pemburu tetapi tidak mematikan.

Reaksi badak terhadap manusia juga telah diceritakan Schenkel dan Schenkel (1969) dan Hoogerwerf (1970). Pada prinsipnya sama, badak lebih sering menghindar bila berjumpa manusia, tetapi terkadang menyerang dahulu yang selanjutnya melarikan diri.

Patroli rutin pengamanan badak jawa yang dilakukan jagawana di Ujung Kulon | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
Patroli rutin pengamanan badak jawa yang dilakukan jagawana di Ujung Kulon | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com

Di daerah asal penyebarannya, badak jawa (Rhinoceros sondaicus) pernah hidup bersama badak India (Rhinoceros unicornis). Mereka hampir menempati ruang yang sama di kaki pegunungan Himalaya dan lembah Brahmaputra (Blyth, 1862).

Di Burma, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam dan semenanjung Malaya pernah juga tinggal bersama badak jawa dengan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dari dataran rendah dekat perladangan penduduk hingga lembah sekitar aliran sungai besar. Atau, aliran sungai yang deras di pegunungan; kadang hingga ketinggian 3.000 kaki (900 m) di daerah lipatan gunung yang datar. Ini sebagaimana laporan Profesor Reinhard (dalam Blyth, 1862) yang menyatakan, badak jawa yang ada di Pulau Jawa dapat dijumpai di mana-mana. Terutama, di perbukitan dan dataran rendah sekitarnya, bahkan sampai ke puncak pegunungan.

Dr. Horsfield (juga dalam Blyth, 1862) mencatat, badak jawa dijumpai dari hutan pantai hingga puncak pegunungan. Penyebaran secara vertikal telah dicatat juga oleh Hoogerwerf, badak jawa pada abad ke-18 hidup tersebar di Pulau Jawa dari dataran rendah, sekitar Karawang dan Jakarta, hingga pegunungan tinggi seperti Tangkuban Perahu, Gunung Gede-Pangrango, Slamet, Papandayan dan Ceremai.

Ujung Kulon yang merupakan habitat badak jawa | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
Ujung Kulon yang merupakan habitat badak jawa | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com

Borner (1979) telah menggambarkan habitat yang disukai dan daerah yang hanya dijelajah badak jawa dan badak sumatera. Badak jawa lebih menyukai dataran rendah, sedangkan badak sumatera lebih menyukai daerah perbukitan. Badak jawa di Ujung Kulon jarang dijumpai menjelajah perbukitan yang curam. Hanya kadang menyusur jalan lintas patroli hingga puncak gunung Payung (480 m), dan tidak pernah tinggal di daerah tersebut (Schenkel dan Schenkel, 1969; Hoogerwerf, 1970; Sadjudin, 1986).

Badak jawa telah beradaptasi pada habitat transisi antara vegetasi dataran rendah dan tempat terbuka. Biasanya, merupakan hutan sekunder dan hutan tropis. Sesuai kebiasaannya dimasa silam, badak jawa tertarik pada daerah pertumbuhan hutan sekunder yang telah dibuka oleh manusia (Schenkel dkk, 1978).

Garis pantai yang menunjukkan wilayah Ujung Kulon | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
Garis pantai yang menunjukkan wilayah Ujung Kulon | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com

Badak jawa senang menjelajah (Schenkel dan Schenkel,1969). Ammann (1980) melaporkan, daerah pengembaraan badak betina diperkirakan sekitar 10-20 km2dan jantan sekitar 30 km2. Daerah jelajah ini dapat tumpang tindih antara satu individu dengan individu lain, sebab badak tidak mempuyai daerah yang dipertahankan (teritori). Hidupnya berjalan soliter.Kecuali pada masa birahi, berpasangan antara jantan dan betina, dan ketika mengasuh betina mengasuh anaknya.

Badak jawa juga memerlukan tempat tertentu, seperti kubangan lumpur dan sungai dangkal tenang untuk bergenang. Hutan yang teduh disukai sebagai tempat bernaung dari teriknya matahari dan berlindung dari kejaran manusia yang berniat membunuhnya. Badak jawa pun memiliki cara mengenal daerah jelajahnya yang ditandai bau air seni, yang lebih sering dilaporkan ketimbang penandaan bau dengan kotorannya.

Badak jawa yang berada di Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Stephen Belcher/Dok. Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Badak jawa yang berada di Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon|Foto: Stephen Belcher/Dok. Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Laporan terdahulu banyak menyatakan adanya jalur-jalur jejak satwa di Ujung Kulon yang sering dipakai badak dan banteng. Hanya di tempat tertentu yang dipakai sebagai jalur mencari makan dari satu lokasi ke lokasi lain.

Saat ini, populasi badak dan banteng diperkirakan berbeda sewaktu Schenkel (1967-1968) dan Hoogerwerf (1935-1955) melakukan penelitian lapangan. Ditambah lagi, adanya peristiwa kematian lima individu badak pada 1982 yang hampir berdekatan.

Terakhir, badak bernama Samson ditemukan mati di tepi Pantai Karang Panjang, Pulau Handeuleum, 23 April 2018. Penyebabnya, diduga kholik atau torsio usus.

Hal penting yang harus kita lakukan kedepan adalah peningkatan pemahaman perilaku dan populasi badak di habitatnya yang saat ini terbatas di Ujung Kulon. Ini berkaitan erat dengan upaya konservasi badak jawa yang merupakan satwa langka terancam punah.

*Haerudin R. Sadjudin,Peneliti badak senior,lebih 40 tahun terlibat program konservasi badak di Indonesia.


Sumber: Diposting ulang dari MongabayIndonesiaatas kerjasamadenganGNFI

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2019-01-11 19:47:00

Open in App