Exclusive from Good News From Indonesia

Kawa Daun, Kopi Kearifan Lokal Batusangkar

Ribuan orang Indonesia berbaris untuk mendapatkan cangkir kopi mereka dengan harapan untuk mempertahankan tradisi kopi yang sudah ada sejak zaman kolonial
General
Sat Dec 01 2018 08:43:00 GMT+0000 (UTC)

Ribuan orang Indonesia berbaris untuk mendapatkan cangkir kopi merekadengan harapan untuk mempertahankan tradisi kopi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

"Semuanya siapkan gelasmu!" seorang menyerukan kepada sekitar 4.000 penduduk setempat dan pengunjung yang menghirup kopi Kawa Daun di sebuah festival minggu ini di Batusangkar di pulau Sumatra.

Foto ini diambil pada tanggal 28 November 2018 menunjukkan cangkir kopi Kawa Daun disajikan dalam batok kelapa selama festival seni dan budaya Minangkabau di Batusangkar, Sumatera Barat. Daerah ini adalah rumah bagi pengambilan yang aneh pada minuman yang mengekstrak rasa dari daun tanaman daripada kacangnya. Ini adalah minuman kuno yang berasal dari masa kolonial ketika sedikit penduduk setempat yang mampu membeli kopi yang diekstrak.
Foto ini diambil pada tanggal 28 November 2018 menunjukkan cangkir kopi Kawa Daun disajikan dalam batok kelapa selama festival seni dan budaya Minangkabau di Batusangkar, Sumatra Barat | Foto: AdekBerry / AFP

Daerah ini adalah tempat asal bagi teknik pengolahan kopi yang tidak biasa,dimana kopi tersebut berasan dariproses mengekstrak rasa dari daun tanaman daripada biji kopinya.

Ini adalah minuman kuno yang populer di masa kolonialdimana keadaan yang membuat penduduk setempat tidak banyak yang mampu membeli biji kopi yang diekstrak.

Jadi mereka merebus daun yang dibuang dan menyajikan minuman yang memiliki rasa pahit tersebut dalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa kering.

"Saya senang bahwa kami dapat menyediakan sebanyak 4.000 cangkir kopi - ini adalah rekor lokal baru," kata Abdul Hakim, kepala kantor pariwisata setempat.

Foto ini diambil pada 29 November 2018 menunjukkan seorang pria membuat kopi Kawa Daun di sebuah kafe tradisional di Tabek, Sumatra Barat | Foto: Adek Berry / AFP
Foto ini diambil pada 29 November 2018 menunjukkan seorang pria membuat kopi Kawa Daun di sebuah kafe tradisional di Tabek, Sumatra Barat | Foto: Adek Berry / AFP

Tetapi orang-orang di area terpencil Indonesia harus rela untuk memotong waktu bekerja mereka untuk mengalahkan rekor nasional yang ditetapkan tahun lalu yang melibatkan sekitar 1,9 juta orang meminum secangkir kopi yang dibuat dengan cara konvensional.

Di sebuah kedai kopi terbuka dekat festival, Efrizon 37 tahun sedang menyeruput secangkir Kawa Daun jauh dari orang-orang lainnya.

"Minuman ini baik untuk Anda dan membuat tubuh Anda terasa hangat," katanya mengomentari minuman lokal tersebut.

"Dan Anda punya batok kelapa yang unik inisebagai wadah pengganti gelas."

Foto ini diambil pada 28 November 2018 menunjukkan seorang wanita Indonesia memegang secangkir kopi Kawa Daun disajikan dalam tempurung kelapa selama festival seni dan budaya Minangkabau di Batusangkar, Sumatera Barat. Daerah ini adalah rumah bagi pengambilan yang aneh pada minuman yang mengekstrak rasa dari daun tanaman daripada kacangnya. Ini adalah minuman kuno yang berasal dari masa kolonial ketika sedikit penduduk setempat yang mampu membeli kopi yang diekstrak | Foto: Adek Berry / AFP
Foto ini diambil pada 28 November 2018 menunjukkan seorang wanita Indonesia memegang secangkir kopi Kawa Daun disajikan dalam tempurung kelapa selama festival seni dan budaya Minangkabau di Batusangkar, Sumatra Barat | Foto: Adek Berry / AFP

Kompetisi kopi ini adalah bagian dari festival seni dan budaya Minangkabauyang berlangsung selama lima hari, termasuk upacara kuliner yang dikenal sebagai Bajamba di mana ratusan wanita berjalan dalam sebuah prosesi dengan nampan besar berisi makanan di atas kepala mereka menuju sekelompok orang yang merasakan lapar yang duduk di lantai saling berhadapan, siap untuk menyantap hidangan cabai lokal dan rendang.

Pada hari Sabtu, lusinan pembalap yang tak kenal takut akan berkompetisi menangkap ekor lembu jantan yang ganas untuk balapan basah dan liar melintasi sawah.


Sumber: Jakarta Post

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2018-12-01 12:07:15

Open in App