Exclusive from Good News From Indonesia

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Bersiap Menyambut Lebih Banyak Wisatawan Dengan Destinasi Baru

  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sedang bersiap untuk membuka dua Desa Wisata Edelweiss di Jawa Timur, yaitu Desa Ngadisari
General
Fri Nov 09 2018 18:05:00 GMT+0000 (UTC)

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sedang bersiap untuk membuka dua Desa Wisata Edelweiss di Jawa Timur, yaitu Desa Ngadisari di Kabupaten Probolinggo dan Desa Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.

Acara peluncuran, yang bertajuk"Festival Tanah Edelweiss", akan berlangsung di Paviliun Desa Wonokitri pada tanggal 10 November besok.

Kepala TNBTS John Kenedie mengatakan desa-desa wisatamenargetkanuntuk menanam bunga edelweiss di luar habitat alami mereka, yang ditemukan di seluruh area taman nasional.

"Selain itu, juga untuk melestarikan budaya Tengger lokal, karena bunga ini sakral dan melengkapi persembahan dalam tradisi ritual mereka, sementara juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat," kata John di Malang, Selasa.

Anaphalis javanica, jenis bunga Edelweiss yang dikenal sebagai Kembang Tana Layu, yang mengacu pada ketidak-mudahannya untuk layu, sehingga disebut bunga abadi | Foto: Nedi Putra AW / Jakarta Post
Anaphalis javanica, jenis bunga Edelweiss yang dikenal sebagai Kembang Tana Layu, yang mengacu pada ketidak-mudahannya untuk layu, sehingga disebut bunga abadi | Foto: Nedi Putra AW / Jakarta Post

John menambahkan bahwa ada tiga jenis edelweiss, yaitu Anaphalisjavanica, Anaphalisvisida dan Anaphalislongifolia. Anaphalisjavanica secara lokal dikenal sebagai Kembang Tana Layu, mengacu pada fakta bahwa bunga ini tidak mudah layu, dan dikenal sebagai bunga abadi.

"Kondisi ini membuat edelweiss ini sangat dicari, terutama di kalangan anak muda," ia menjelaskan, menambahkan bahwa jenis khusus edelweiss ini dilindungi oleh pemerintah.

Dia mengatakan bunga yang dibudidayakan adalah generasi kedua, atau F2, menjelaskan bahwa benih diambil dari area taman nasional melalui serangkaian uji coba budidaya dan perkembangan sejak tahun 2014, dengan 5.600 benih disediakan untuk setiap desa.

"Proses ini dituangkan dalam surat keputusan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," tambahnya.

John mengatakan desa-desa wisata akan dikelola oleh pengasuh mereka sendiri, khususnya dari Kelompok Tani Edelweiss di dua desa.

Bunga Edelweiss Taman Nasional Bromo | Sumber: Dictio.id
Bunga Edelweiss Taman Nasional Bromo | Sumber: Dictio.id

Desa-desa memiliki tujuan untuk menawarkan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan yang berkunjung ke Bromo selain menikmati panorama dan matahari terbit.

Kepala Desa Wonokiri Iksan mengatakan upaya budidaya edelweiss di desa itu juga menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat.

"Sebelum tahun 2007, penduduk desa kami murni mengandalkan pertanian tanaman, tetapi setidaknya 60 persen sekarang dapat melihat peluang layanan pariwisata," katanya.

Iksan menambahkan bahwa pariwisata edelweiss akan digabungkan dalam satu unit dengan perusahaan milik desa.


Sumber: Jakarta Post

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2018-11-09 16:43:29

Open in App