Exclusive from Good News From Indonesia

Salah Satu DNA Leluhur Kita : Menyapa

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah* Pada minggu pertama bulan Pebruari 2019 ini saya berkesempatan “Nyoto” – atau sarapan Soto ayam
General
Sun Feb 10 2019 09:33:00 GMT+0000 (UTC)

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*

Pada minggu pertama bulan Pebruari 2019 ini saya berkesempatan “Nyoto” – atau sarapan Soto ayam bersama dengan Anies Baswedan – atau Mas Anies demikian saya memanggilnya, Gubernur DKI bersama beberapa mantan aktivis Mahasiswa Surabaya. Wong namanya mantan aktivis, mas Anies dan kami bicara “ngalor ngidul” atau secara guyon saya menyebutnya “Dialog Utara Selatan”, soal sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.

Yang menarik dari diskusi sambil sarapan itu adalah pendapat mas Anies tentang pengalaman dia sebagai orang nomor satu di Ibu Kota negara kita. Dia bercerita punya pengalaman sebagai menteri yang berkesempatan keliling nusantara ini dimana dia menyaksikan kemiskinan. Tanpa menafikan soal kemiskinan di luar Jawa- mas Anies menjelaskan bahwa orang-orang miskin tersebut itu meskipun rumah kecil tidak punya apa-apa, namun masih melihat hamparan sawah atau padang yang luas, udara bersih tanpa polusi, ada sungai untuk mandi, masih punya kerabat besar atau Extended Family, masih ada makanan dari kebun. Karena itu melihat kemiskinan yang riel itu sebenarnya tidak jauh-jauh, di Jakarta !!!--- kata dia. Ada perkampungan yang tidak jauh dari Monas yang penduduknya sangat miskin, rumah nya rumah petak, tidak ada kamar mandi, pendapatannya yang rendah jauh dari standar orang rata-rata, tidak punya kerabat. Jumlahnya lumayan banyak; namun jumlah nya makin banyak apabila di tambah dengan banyaknya penduduk Jakarta yang tidak punya rumah, alias “ngekos”- yang kemungkinannya kecil memiliki rumah sendiri mengingat harga tanah yang mahal. Itu tantangan mas Anies sebagai Gubernur DKI yang berupaya untuk mensejahterakan rakyat kecil. Sebuah ikhtiar yang tidak mudah.

Salah satu dari banyak upayanya itu adalah memberikan akses seluas-luasnya rakyat untuk bisa menikmati pemandangan yang indah di daerah reklamasi di pantai Jakarta, yang sebelumnya di jaga oleh orang asing, tidak semua orang bisa masuk. Setelah bisa menyelesaikan soal kontroversi reklamasi, mas Anies berupaya membuka akses daerah-daerah yang di reklamasi itu kepada rakyat dengan cara membangun berbagai fasilitas untuk rakyat banyak. Dia meluruskan istilah yang sudah kadung beredar di media, yaitu istilah “Pulau Reklamasi” atau “P.A, P.B” dan sebagainya. Itu huruf P disitu bukan berarti “Pulau” tapi “Pantai” jadi Pantai A, B dst; seperti Pantai Indah Kapuk dan Ancol yang semuanya adalah tanah reklamasi.

Yang lebih menarik dari pendapat mas Anies ketika menjawab pertanyaan – dengan barbagai masalah yang komplek di Ibu Kota- “Kok bisa menang di DKI”, jawabannya adalah: “ sering Menyapa” penduduk. Dalam polling awal di suatu daerah pemilihan, suara mas Anies memperoleh suara yang rendah, namun ketika sering turun kebawah menyapa rakyat, maka polling nya naik drastis. Dengan menyapa rakyat, mas Anies mengetahui bahwa rakyat itu hanya tertarik pada isu-isu tentang kebutuhan dasar rakyat bukan isu tentang sektarian kala itu (kasus penistaan Agama). Mas Anies pemimpin muda keturunan Arab, tapi asli Jogyakarta, sekolah mulai kecil sampai kuliah UGM di Jogyakarta, dan budaya Jawa khas Jogyakarta yang melekat di diri dia itu dipakainya dalam menyapa orang, tanpa meninggalkan perasaan kebencian, menyapa dengan sopan tanpa menyombongkan diri.

Budaya menyapa yang di maksud ini bukanlah budaya menyapa yang tidak tulus hanya karena untuk kepentingan sesaat agar mendapat dukungan suara dalam pilkada. Dan budaya menyapa di negeri kita ini unik kalau dari perspektif orang barat; bayangkan kita kalau berada di suatu tempat misalkan bandara, stasiun KA, warung dsb sering menyapa satu sama lain padahal tidak kenal. “dari mana bapak/mas/bu”, “mau kemana” itu kalimat-kalimat yang sering muncul dalam budaya menyapa itu. Dan kalau berpisah pun selalu pamit “saya duluan pak”, atau “monggo” dsb dsb. Sementara pengalaman saya keliling berpuluh-puluh negara di dunia ini, sekolah di luar negeri sejak tahun 80an tidak pernah menemui orang yang tidak kenal saling menyapa. Lagian dalam ajaran agama yang saya anut Islam, kita diperintahkan untuk menyapa/mengucapkan salam dan doa kepada orang yang kita temui “Assalamualaikum Warrohmatullah wabarokatuh”.

Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk meng-kultus individu kan mas Anies; namun pendekatan dia ke masyarakat dengan menggunakan “Local Wisdom” atau “Accepted Local Culture” sesuai dengan budaya luhur bangsa- itu yang penting dan bermakna.

Karena selain mas Anies, tentu masih banyak para pemimpin nasional sampai daerah yang di senangi rakyatnya, dikarenakan –seperti mas Anies - menggunakan nilai-nilai luhur kearifan lokal dalam berinteraksi dengan rakyatnya.

Siapapun calon pemimpin negeri ini dari Presiden, DPR, DPRD sampai lurah sekalipun kalau melupakan jati diri, nilai-nilai luhur budaya bangsa dalam hal ini sering menyapa rakyat dengan tulus , tentu akan ditinggal rakyatnya.

Alumni Universitas Airlangga Surabaya,
University of London, Inggris
Staff Khusus Rektor Unair
Bidang Internasional

(Pendapat dalam tulisan ini tidak merefleksikan
Kebijakan dari Lembaga dimana penulis bekerja)

Penulis: AHMAD CHOLIS HAMZAH
Dirilis pada 2019-02-10 14:43:00

Open in App