Exclusive from Good News From Indonesia

NH Dini dan Karya Sastranya

Sebuah kecelakaan mobil di kota kelahirannya di Semarang telah merenggut kehidupan tokoh sastra terkemuka, NH Dini pada usia 82 tahun. Lahir
General
Thu Dec 06 2018 08:53:00 GMT+0000 (UTC)

Sebuah kecelakaan mobil di kota kelahirannya di Semarang telah merenggut kehidupan tokoh sastra terkemuka, NH Dini pada usia 82 tahun.

Lahir di Semarang pada 29 Februari 1936, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, yang akrab dipanggil sebagai NH Dini, tertarik menulis sejakia masih berada di sekolah dasar. Dia sering menuangkan isi hatinya ke buku sekolahnya.

Ibunya, Kusaminah, adalah orang yang memperkenalkan NH Dini ke dunia luar sekolah. Setiap malam, dia menceritakan kisah-kisahnya dan membaca dari majalah Jawa seperti Panji Wulung dan Penjebar Semangat.Kusaminah juga memperkenalkan putrinya ke tembang (lagu-lagu Jawa) dan alfabet.

Dalam wawancara dengan Antara pada 2017, Dinimenyebutkan pengaruh ibunya pada karakternya: "Ibu saya adalah orang yang pengaruhnya mendominasi karakter [saya] dan bagaimana [saya] mendekati lingkungan [saya]."

Ayah Dini, Saljowidjojo meninggal ketika dia masih di sekolah menengah pertama.Kehilangan ayahnya membuat dia menjadi seorang penyendiri yang belajar untuk mengekspresikan perasaannya secara diam-diam dengan menulis. Pada tahun 1953, cerita pendek Dini mulai diterbitkan di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, dan Kisah.

Terlepas dari cerita pendeknya, NH Dini adalah seorang penulis yang produktif yang bekerja melalui banyak bentuk komposisi lain, seperti puisi, drama radio, dan novel. Selama bertahun-tahun sejumlah novelnya, seperti Pada Sebuah Kapal, Keberangkatan, Namaku Hiroko, Padang Ilalang di Belakang Rumah, dan Sebuah Lorong di Kotaku, telah menjadi favorit penggemar sastra.

Dini juga diakui sebagai feminis yang membela hak-hak perempuan dalam karya-karyanya.

Rekan sesama penulis,Laksmi Pamuntjak mengingat NH Dini sebagai "wanita modern" klasik.

"Orang modern, kata Walter Benjamin, adalah seseorang yang memilih, yang selalu memposisikan dirinya sebagai subjek. Dini 'modern' dalam arti itu: Dia memiliki keberanian untuk menjadikan dirinya subjek hidupnya dan fiksi dan tidak pernah merasa dia harus menjelaskan, apalagi meminta maaf, aspek otobiografi tulisannya.Dia juga modern dalam hal lain yang penting: seksualitasnya dan tulisan perintisnya tentang seks. Baginya, seks merupakan bagian integral dari kehidupan, bukan Pernyataan feminis. Tidak banyak yang menyadari bahwa ia telah melanggar landasan baru dalam hal seks dan seksualitas jauh sebelum generasi pasca-Soeharto para penulis wanita," kata Laksmiseperti yang dikutip dari Jakarta Post.

Dini menerima banyak penghargaan untuk tulisannya. Cerpennya, "Sarang Ikan di Teluk Jakarta" memenangkan kompetisi cerita pendek berbahasa Perancis nasional di Indonesia pada tahun 1988. Setahun kemudian ia menerima penghargaan sastra dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1991, Dini dianugerahi Piagam Upapradana dari provinsi Jawa Tengah.

Pada tahun 2003, Dini menerima Penghargaan Tulis SEA dari pemerintah Thailand, diikuti oleh Francophonie Award pada tahun 2008 dan Achmad Bakrie Award untuk sastra pada tahun 2011. Pada tahun 2017, ia menerima Anugerah Prestasi Seumur Hidup dari komite Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).

Setelah berpisah pada 1984 dari suaminya Yves Coffin, yang ia nikahi di Kobe, Jepang pada tahun 1960, Dini kembali ke Indonesia, mengambil kembali kewarganegaraan Indonesia dan tinggal di Kampung Sekayu, Semarang, di mana ia membangun Pondok Baca NH Dini.

Setelah membangun karier sebagai penulis selama 60 tahun, Dini hanya menerima royalti dari karya-karyanya selama tiga tahun terakhir. Pada saat kematiannya dia tinggal di rumah jompo bernama Panti Wredha Langen Wedharsih di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Dini masih aktif berpartisipasi dalam acara sastra, kegiatan akademik, bimbingan tesis dan berbicara dalam seminar hingga hari-hari terakhirnya. NH Dini meninggal pada 4 Desember setelah kecelakaan mobil saatberusia82 tahun.


Sumber: Jakarta Post

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2018-12-06 13:29:00

Open in App