Exclusive from Good News From Indonesia

Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan dengan Gelar Pahlawan

Pada 7 November lalu, presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan kepada 6 tokoh yang berjasa kepada Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut mulai
General
Wed Nov 13 2019 23:41:00 GMT+0000 (UTC)

Pada 7 November lalu, presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan kepada 6 tokoh yang berjasa kepada Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut mulai dari anggota BPUPKI hingga dokter. Di antara 6 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan tersebut, ada satu tokoh perempuan dan menjadi satu-satunya perempuan yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2019. Perempuan tersebut bernama Rohana Kudus, seorang jurnalis perempuan pertama di Indonesia kelahiran Kota Agam Sumatera Barat pada 20 Desember 1884.

Rohana Kudus merupakan putri dari Mohamad Rasjad Maharadja Sutan yang menjabat sebagai kepala jaksa di Pemerintahan Hindia Belanda. Keluarga Rohana adalah keluarga yang gemar membaca terlebih dari sang ayah. Ayah Rohana sering membawakan buku, majalah dan bahan bacaan lainnya untuk dibawa pulang sehingga Rohana dapat membaca buku-buku tersebut. Sehingga meskipun Rohana tidak menempuh pendidikan formal, Rohana mampu mengenal abjad latin, Arab dan Arab Melayu di usia belia.

Manuskrip Soenting Melajoe. | Foto : merdeka.com

Karir jurnalis Rohana dimulai ketika ia menjadi penulis di surat kabar bernama Poetri Hindia pada 1908 sebelum surat kabar tersebut dibredel oleh pemerintah Belanda. Setelahnya, Rohana yang saat itu sudah mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, yakni sekolah untuk perempuan yang berisikan pelajaran mengenai keterampilan, berkeinginan untuk membuat perempuan memiliki pendidikan yang lebih baik dan diberikan ruang untuk menulis. Akhirnya Rohana mengirimkan surat ke pimpinan redaksi Oetoesan Melajoe (dibaca Utusan Melayu), di Padang yang disambut sangat baik oleh Maharadja, seorang senior wartawan. Tidak hanya diberikan ruang untuk penulis perempuan, bahkan didirikan surat kabar khusus perempuan yang diberi nama Soenting Melajoe (dibaca Sunting Melayu) yang diurus oleh Rohana bersama anaknya yang bernama Ratna Juwita.

Sunting Melayu beridiri pada tahun 1911 dan terbit pertama kali pada 10 Juli 1912. Sunting sendiri berarti ‘perempuan’ dan Melayu merupakan perwakilan dari wilayah mereka. Beridirinya surat kabar Sunting Melayu merupakan surat kabar yang diperuntukkan bagi perempuan di seluruh tanah Melayu yang semua penulisnya adalah perempuan dan tulisan-tulisannya bertemakan perempuan. Kiprah Rohana tidak hanya pada surat kabar Putri Hindia dan Sunting Melayu, namun juga pada surat kabar Radio. Rohana menjadi redaktur di surat kabar tersebut pada 1924 sepulangnya dari Medan. Tulisan-tulisan Rohana sendiri pada umumnya berisikan ajakan pada kaum perempuan untuk lebih maju.

Pada dasarnya peran Rohana tidak hanya di bidang jurnalistik, namun juga bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan di lingkungannya. Melalui bidang jurnalistik, rohana mendistribusikan pikiran-pikirannya yang open minded sehingga tumbuhlah semangat baru bagi kaum perempuan saat itu. Perjuangannya dalam membela perempuan juga diterapkan pada bidang pendidikan melalui pengajaran keterampilan-keterampilan pada perempuan di lingkungan tersebut hinga pada suatu waktu hasil dari produksi murid-muridnya dapat diekspor ke Eropa. Hal tersebut karena produk yang dihasilkan memang layak untuk pasar Eropa.

Anugerah Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh diterima oleh para ahli waris di Istana Negara. | Foto : Portaltiga.com

Wanita yang wafat pada 17 agustus 1972 ini tidak hanya mendapat gelar Pahlawan Nasional dari presiden Joko Widodo. Sebelumnya Rohana sudah pernah mendapat berbagai penghargaan, antara lain Bronzen Ster pada 1941, penghargaan Upkarti dari presiden Soeharto pada 1987 serta penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2007.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Namun bangsa yang hebat adalah bangsa yang dapat mencetak banyak pahlawan yang tak lekang oleh zaman. Oleh karenanya, meskipun kemerdekaan Indonesia sudah di genggaman, namun perjuangan kita masih belum usai. Perjuangan melawan ketidak adilan, perjuangan melawan kemiskinan, dan perjuangan demi kebaikan bangsa harus kita teruskan.


Catatan kaki: Historia.id | detik

Penulis: WIHDI LUTHFI
Dirilis pada 2019-11-13 22:52:00

Open in App