Exclusive from Good News From Indonesia

Belajar Mengelola Sampah menjadi Berkah di SMP Wisata Sanur

Dengan hati-hati Rahman Maulana menempelkan satu per satu bagian atas sendok bekas yang telah dipotong ke kulit luar botol plastik
General
Fri Dec 07 2018 06:23:00 GMT+0000 (UTC)

Dengan hati-hati Rahman Maulana menempelkan satu per satu bagian atas sendok bekas yang telah dipotong ke kulit luar botol plastik bening. Puluhan bekas sendok itu ditempel mengelilingi botol. Sekilas bentuknya mirip sisik ular.

Duduk lesehan berhadapan dengan Rahman, Echa Ardika bertugas mengelem tiap kepala sendok bekas berwarna putih susu itu. Begitu Rahman selesai memasang satu kepala sendok bekas, siswa Kelas VIIA itu segera memberikan potongan baru.

Rahman dan Echa termasuk dua murid SMP Wisata Sanur yang membuat prakarya menggunakan bahan bekas sampah pada akhir Oktober lalu. Pagi itu, sekitar 50 murid sekolah di kawasan Sanur ini menunjukkan bagaimana mereka menjadikan sampah bukan sebagai masalah, tetapi sebaliknya, sarana untuk belajar membuat prakarya. Lampu hias buatan Rahman dan Echa hanya salah satunya.

Selain lampu hias, bengkel di mana Rahman dan Echa membuat kerajinan juga memamerkan karya-karya lain, seperti jam dinding, dulang (tempat sesaji bagi umat Hindu Bali), vas bunga, dan lain-lain.

“Bahan-bahannya dari sampah yang kami kumpulkan di sekolah maupun rumah,” kata Rahman.

Murid SMP Wisata Sanur, Bali, membuat lampu hias dari sampah | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia
Murid SMP Wisata Sanur, Bali, membuat lampu hias dari sampah | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Pembuatan prakarya berbahan bekas sampah merupakan upaya SMP swasta yang dikelola Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) ini untuk mengajarkan anak-anak untuk mengelola sampah sejak dini.

Menurut Kepala Sekolah SMP Wisata Sanur Gusti Made Raka sekolahnya memang berkomitmen untuk menjadikan sampah sebagai berkah, daripada masalah. “Kami berkomitmen untuk mengelola sampah termasuk dengan mendaur ulang maupun mengolahnya jadi kompos,” katanya.

Made Raka mengatakan komitmen itu diterapkan dalam keseluruhan rantai pengelolaan sampah di sekolah mereka. Di bagian awal, misalnya, siswa sudah belajar untuk memilah sampah anorganik dan organik. Tujuannya selain untuk membiasakan murid-murid dari kecil juga agar sampah-sampah itu bisa dimanfaatkan sebagaimana jenisnya.

Di rantai selanjutnya, sampah organik mereka olah menjadi pupuk sedangkan sampah organik dibuat menjadi prakarya dan media pembelajaran. “Bekas pipet plastik misalnya kami gunakan untuk membuat kubus saat pelajaran Matematika. Jadi, sampah juga memiliki nilai tambah,” ujarnya.

Murid SMP Wisata Sanur membersihkan sampah plastik untuk digunakan sebagai bahan kerajinan | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia
Murid SMP Wisata Sanur membersihkan sampah plastik untuk digunakan sebagai bahan kerajinan | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Membuat Kompos

Tidak ada mata pelajaran khusus tentang sampah, tetapi menurut Raka, ada guru yang menyelipkan materi-materi tentang sampah itu dalam mata pelajaran maupun ekstra kurikuler (ekskul). Misalnya tentang kebersihan dan pemilahan sampah.

Raka menambahkan sekolah yang berdiri sejak 1967 ini juga memiliki ekskul pertamanan maupun pendidikan lingkungan hidup. Melalui ekskul itu, murid SMP Wisata Sanur tidak hanya belajar tata kelola sampah, tetapi juga menggunakan sampah untuk hal yang lebih berguna, seperti berkebun dan membuat kerajinan tangan.

Di halaman belakang sekolah mereka ada kebun kecil, sekitar 100 meter persegi. Siswa menanam sayur-sayuran seperti tomat, terong, dan cabai. Ada pula aneka bunga seperti bunga ratna dan bunga matahari.

“Hasil berkebunnya biasa dipakai jika ada kegiatan-kegiatan pramuka,” kata Ni Wayan Adnyani, siswa lain.

Seperti murid-murid lain, Adnyani juga ikut merawat kebun. Dia ikut membuat pupuk organik dari sampah-sampah di sekolahnya. Pagi pada akhir Oktober itu, siswa kelas VIIIA ini membuat kompos bersama teman-temannya. Mereka terlebih dulu memilah sampah dari tong sampah.

Saat ini, SMP Wisata Sanur memiliki 1.095 murid. Dalam sehari mereka mendapatkan 2-3 kg sampah anorganik. “Sebagian besar dari bungkus makanan dan daun-daun tanaman di kebun,” kata Adnyani.

Setelah dipilah, sampah-sampah itu dibawa ke tempat pengolahan. Sampah anorganik, sebagian besar berupa gelas minuman instan dan bungkus jajanan, kemudian dibersihkan. Setelah itu baru dibuat menjadi aneka kerajinan.

Salah satu murid menunjukkan prakarya berbahan sampah | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia
Salah satu murid menunjukkan prakarya berbahan sampah | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Adapun sampah organik diolah menjadi kompos. Hasilnya untuk pupuk di kebun yang mereka kelola. “Dengan demikian murid-murid bisa melihat bahwa jika dikelola dengan baik, sampah bisa berguna untuk kehidupan sehari-hari,” kata Raka.

Tak hanya di sekolah, murid-murid SMP Wisata Sanur juga mengaku menerapkan pemilahan sampah di rumah masing-masing. “Pemilahan sampah itu penting karena plastik susah diurai oleh tanah. Kalau sudah menumpuk di tanah akan susah diolah,” Adnyani menambahkan.

Sekolah Adiwiyata

Dengan program pengelolaan sampah itu, SMP Wisata Sanur terlihat rapi dan rindang. Pohon-pohon hijau menaungi halaman dan lapangan sekolah. Aneka papan peringatan untuk peduli lingkungan pun terpasang di mana-mana.

Bahkan, mereka juga punya jargon-jargon khusus untuk peduli lingkungan. Ketika menyambut tim yang difasilitasi Aqua Danone berkunjung ke sekolah ini akhir Oktober lalu, puluhan murid laki-laki dan perempuan berbaris dan menyanyikan lagu-lagu tentang lingkungan.

Karena keberhasilan menata lingkungan itu, SMP Wisata Sanur juga mendapatkan predikat sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional pada 2012 dan Adiwiyata Mandiri pada 2013.

Sekolah Adiwiyata merupakan penghargaan terhadap sekolah yang dianggap sudah baik dalam menerapkan prinsip-prinsip lingkungan. Penghargaan oleh diberikan di tingkat lokal maupun nasional.

Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali Catur Yudha Hariani mengatakan SMP Wisata Sanur termasuk salah satu sekolah yang memang aktif dalam melestarikan lingkungan. Sejak 1998 sekolah ini menjadi anggota Sekaa Guru Peduli Lingkungan (SGPL) yang dibentuk PPLH Bali.

Menurut Catur, sekolah bisa menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar lingkungan sejak dini. “Guru menjadi kuncinya,” katanya.

Oleh karena itulah PPLH Bali menginisiasi lahirnya SGPL pada 1998 silam. Hingga saat ini ada sekitar 150 sekolah bergabung di SGPL, dari SD, SMP, ataupun SMA/SMK. “Anggota paling banyak ada di Denpasar,” katanya.

Tiap bulan, SGPL berkumpul melakukan kegiatan terkait lingkungan, termasuk pelatihan tentang lingkungan hidup, bersih-bersih bersama, penguatan adiwiyata, pendampingan, dan lomba bertema lingkungan.

Menurut Catur, pendidikan lingkungan seperti di SMP Wisata Sanur perlu disebarluaskan lebih banyak. “Pendidikan lingkungan perlu dilakukan sejak dini dan tempat yang strategis ya adalah sekolah,” ujarnya.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesiaatas kerjasama dengan GNFI

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2018-12-07 11:17:00

Open in App