Exclusive from Good News From Indonesia

Tips Jalan-jalan Menyenangkan: Travel Sketching

Mendokumentasikan perjalanan, baik dengan cara visual maupun lewat tulisan serta catatan perjalanan, pasti sebagai agenda wajib buat para traveler. Biasanya,
General
Sat Dec 07 2019 09:08:00 GMT+0000 (UTC)

Mendokumentasikan perjalanan, baik dengan cara visual maupun lewat tulisan serta catatan perjalanan, pasti sebagai agenda wajib buat para traveler. Biasanya, wisatawan mendokumentasikan perjalanan mereka dengan visual memakai kamera, baik DSLR maupun kamera smartphone.

Tahukah kamu, tradisi mendokumentasikan perjalanan tersebut sudah lama ada malah sebelum kamera ditemukan. Gimana para penjelajah di zaman dahulu mendokumentasikan perjalanan mereka?

Semacam dengan sketsa. Ide mendokumentasikan perjalanan disebut berawal saat seorang pelukis bernama William Hodges turut dalam ekspedisi kedua Kapten Cook di Samudera Pasifik.

Kemudian ada seniman Edward Adrian Wilson yang menjadi rekan Robert Scott saat dia mengeksplorasi Antartika.

Tidak cuma para penjelajah zaman dulu, traveler di masa yang kian modern pun telah membuat sketsa perjalanan, sebagaimana yang dilaksanakan Jacqueline dan Lee Bouvier, yang mengakhiri sketsa tur Eropa mereka tahun 1951.

Salah seorang penulis sekalian seniman sketsa, Candace Rose Rardon, menjajal menghidupkan lagi tradisi ini kira-kira tiga setengah tahun kemarin. Dalam perjalanan solonya menuju Porto, Portugal.

Meskipun tidak pernah latihan seni secara formal, Rardon menyiapkan buku gambar termasuk satu set pensil warna. Dan pada suatu ketika di tepi Sungai Douro, di suatu restoran yang nyaman, dia menghasilkan karya sketsa perjalanannya yang awal.

Ada alasan bagus yang mejadikan Rardon mulai menciptakan sketsa perjalanan. Alasan tersebut yang barang kali akan memotivasimu buat melakukan hal yang serupa.

Sebagaimana yang disampaikan penulis Robet Reid, menciptakan sketsa bakal memperlambat duniamu dan membantumu guna berada di saat ini; merasakan detik-detik perjalanan yang bernilai.

Memang, duduk di suatu pojok di kota yang asing bakal terasa tidak terlalu nyaman pada awalnya, namun kamu bakal segera menikmati manfaatnya.

Alasan kedua, menciptakan sketsa akan menjadikan tubuh serta pikiranmu terlatih buat fokus.

Cuma satu atau dua kali praktik, kamu bakal merasa lebih percaya diri serta lebih bebas dalam memilih tempat buat membuat sketsa, apa itu di pinggir sungai, di tengah-tengah taman, kafe dengan barisan toko di sekitarnya, tepi hutan, maupun di pojok dekat gedung museum bergaya klasik.

Pikiran yang fokus pun akan menolongmu menikmati setiap perjananan. Kamu bakal menyadari saat langit berganti warna sebelum sore, atau seperti apa air sungai menjadikan riak-riak kecil saat selembar daun gugur diatasnya, lalu bahkan hal-hal yang amat biasa semacam jemuran yang menggelantung dari balkon ke balkon di rumah-rumah warga, yang bisa menjadi terlihat serupa indahnya dengan untaian aksesoris lampu di pohon-pohon natal.

Kamu dapat mampu “menyerap” detail-detail dari suatu tempat dengan lebih dalam. Kamu bakal berada disini dan sewaktu ini.

Alasan ketiga, barang kali kamu akan berjumpa dengan orang anyar yang mengasyikan saat bepergian. Seperti yang kita ketahui, bertemu orang baru lalu menjalin pertemanan sebagai sesuatu yang diinginkan banyak traveler.

Sebagaimana yang dialami Rardon saat tengah menggambar di pasar malam Bến Thành, di Ho Chi Minh, Vietnam. Dirinya bertemu bersama seorang mahasiswa yang pun hobi menggambar, dan mereka jua menggambar bersama-sama menggunakan cat air.

Pertemanan tersebut berlanjut, lalu si mahasiswa menjadi rekan Rardon mengeksplor kota dan mendapatkan lapisan-lapisan tersembunyi yang belum banyak ditemukan oleh para pengunjung di sana.

“Saya sadar bahwa menciptakan sketsa perjalanan menolong saya lebih dari sebatas mengingat tempat-tempat; dirinya membuka peluang serta menciptakan koneksi,” ujar Rardon.

Pengalaman demi pengalaman diperoleh Rardon dari menggambar; diundang oleh keluarga di Bosnia, berdansa bersama pekerja union di Dublin pub, berteman bersama pendeta muda di Kamboja.

Baginya, menggambar bakal memancing orang lain buat mendekatimu, mengintip lewat bahumu lalu menilai apakah gambarnya mirip daripada aslinya. Kamu mungkin menulis seharian di kafe yang penuh, tapi tidak akan ada orang yang mendekati dan bertanya apa yang tengah kamu perbuat.

Bagaimana, tertarik buat membuat sketsa perjalanan? Di bawah sejumlah tips dari Rardon:

Anggap dunia menjadi studiomu

Menciptakan sketsa merupakan hobi yang portable. Tempat manapun, mulai meja di kafe terbuka sampai meja di kamar hotel, bisa jadi area kerjamu.

Apa yang kamu perlu ialah buku sketsa (dengan kertas yang lumayan tebal dan kuat; 300 gsm idealnya), pensil, ball point, pensil warna serta cat air didalam packaging yang gampang dibawa.

Lihat dengan mata, bukan dengan otak

Mulailah dengan memilih “kerangka” sketsa lalu memilih perspektif yang hendak digambar. Otak kita suka langsung melompat pada konklusi; contohnya, menurut persepsi otak, atap rumah rupanya segitiga sama sisi, tetapi rupanya rumah di depan kita memiliki atap melengkung.

Mental shortcut semacam itu memang kecenderungan alami, tetapi harus kamu lawan buat saat ini. Ambil waktu guna mempelajari pemandangan, lalu bandingkan apa yang digambar dengan kondisi aktual di hadapan kamu.

Gunakan seluruh indra

Meskipun menggambar merupakan aktivitas visual, mengasah “otot” sensorik lainnya bakal memperdalam keterlibatan kamu.

Adakah aroma tertentu yang tercium? Apa yang didengar lalu suara apa yang jelas terdengar? Dengan tiap observasi yang dikerjakan, kamu bisa menambah catatan di sketsa kamu, agar lebih hidup.

The air swirls with the scents of apple shisha, roasting lamb, and Turkish coffee,” merupakan catatan yang ditambah Rardon buat sketsa Singapura-nya.

Anotasi bakal membantu kamu membuat memento yang menggugah tentang tempat-tempat mengagumkan yang sempat kamu datangi.

Referensi: travelwisataindonesia.com | wisatapulauindonesia.com

Penulis: YASIR MAULANA
Dirilis pada 2019-12-07 14:00:00

Open in App