Exclusive from Good News From Indonesia

Meskipun Namanya Garang, Burung Ini Terlihat Sangat Imut

Burung cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma) merupakan burung yang paling kecil ukuraannya di Indonesia. Burung bersuara merdu ini tersebar di India
General
Sat Mar 02 2019 14:02:00 GMT+0000 (UTC)
  • Burung cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma) merupakan burung yang paling kecil ukuraannya di Indonesia.
  • Burung bersuara merdu ini tersebar di India Timur, Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, dan Philipina.
  • Karena suaranya yang merdu, burung ini termasuk salah satu buruan favorit para pemburu burung.
  • Meski bukan burung dilindungi, perlu diperhatikan perburuannya. Bisa dilakukan kuota penangkapan untuk membatasi perburuan

Kalau ada kontes burung paling imut di Indonesia, mungkin salah kandidat pemenangnya adalah burung ini. bagaimana tidak, Burung cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma), berukuran sangat kecil, yaitu berkisar hanya 8 cm saja besarnya.

Selain itu, burung ini juga mempunyai corak tubuh yang cukup menarik. Pada jantan dewasanya, ada warna jingga dan biru pada tubuhnya, dengan detail : kepala, sayap, dan ekor biru; sementara punggung, tungir dan perut berwarna jingga, serta tenggorokan yang berwarna abu-abu.

Burung cabai bunga api betina | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Burung cabai bunga api betina, mempunyai warna yang berbeda dengan jantannya. Punggung, sayap, dan ekor berwarna kehijauan. Warna betinanya ini, mirip dengan warna saat remajanya. Hanya saja tanpa warna kuning dan jingga.

Burung ini juga mempunyai suara yang cukup merdu. Memanjang dan berdengung. Yang diulang-ulang, bahkan saat dia terbang. Kicauannya sangat khas, nyaring dan sedikit berirama menurun.

Tersebar di India Timur, Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, dan Philipina. Tinggal di ketinggian di atas permukaan laut sampai 1000 m. di beberapa tempat burung cabai bunga api ini juga dijumpai di ketinggian sampai 1800 di atas permukaan laut. (John MacKinnon, Karen Phillipps, dan Bas Van Balen, LIPI 2010; Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimatan).

Burung cabai bunga api betina sedang membawa makanan | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Burung cabai bunga api betina sedang membawa makanan | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Hidup di hutan tropis, semak, hutan mangrove, dan pekarangan. Sering juga terlihat hinggap di dahan-dahan kecil dan beterbangan kesana kemari dengan cepat. Makanannya adalah buah-buahan kecil dan serangga.

Musim berkembangbiak burung Cabai Bunga-Api ini yaitu terjadi sepanjang tahun dengan jumlah telur yang dierami indukkannya bisa mencapai 3 butir.

Saat masa bertelur, setelah menetas, anakan burung cabai bunga api akan selalu dilolohi oleh induknya. Mereka makan hampir di setiap waktu. ketika mengerami sampai dengan usia anakan yang masih sangat baru menetas, salah satu indukan nya akan menemani anakannya di dalam sarang, sementara indukan lainnya akan berjaga di sekitar sarang. Setelah cukup besar, barulah sang induk akan meninggalkan sarangnya dan membiarkan anakan hidup tanpa indukan di dalam sarang mereka.

Sekali anakan keluar sarangnya, berarti mereka sudah tidak masuk kembali ke dalam sarang mereka.

Burung cabai bunga api sedang memberi makan anaknya | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Burung cabai bunga api sedang memberi makan anaknya | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Burung cabai dewasa yang tidak sedang bertelur, tidaklah tidur di dalam sarang, tetapi di dahan-dahan pohon ataupun dedaunan.

Di wilayah hutan Indonesia bisa kita temui mulai dari Kepulauan Riau, Sumatera, Kalimantan, Pulau karimata, Kepulauan Anambas, Pulau Simeulue dan lain sebagainya.

Burung cabai bunga api tidur di luar sarangnya | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Karena suaranya yang cukup bagus itulah, burung ini termasuk salah satu buruan favorit para pemburu burung. Untuk kemudian dirawat anakannya lalu dijual kepada para hobies burung. Memang burung ini bukan merupakan burung yang masuk ke dalam kategori yang status yang langka, dan hanya dalam status rendah resiko, yang artinya keberadaannya di alam liar masih cukup berlimpah. Dan ini menyebabkan penangkapan yang berlebihan oleh para pemburu burung.

Seharusnya, walaupun tidak ada dalam status perlindungan yang ketat, tetap saja ada batas kuota untuk pencahariannya. Sehingga burung ini tetap lestari. Dan nasibnya tidak seperti burung kacamata yang keberadaannya di alam liar sudah mulai menghilang.

Burung cabai bunga api jantan sedang membawa makanan | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Burung cabai bunga api jantan | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia


Sumber: Ditulis oleh Anton Wisuda dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2019-03-02 19:02:00

Open in App