Exclusive from Good News From Indonesia

Konser Musik Bertenaga Matahari, Apa Bisa?

Membuat konser dari energi matahari pada musim hujan di bulan Desember adalah perjudian. Setelah Tanam Saja, kini band Nosstress panen
General
Wed Jan 02 2019 23:55:00 GMT+0000 (UTC)

Membuat konser dari energi matahari pada musim hujan di bulan Desember adalah perjudian. Setelah Tanam Saja, kini band Nosstress panen cahaya di konser musik dengan energi surya.

Tanam Saja adalah judul lagu hits musisi ini, salah satu favorit penggemarnya. Menandai satu dekade, 10 tahun berkarya, trio band pop-folk dari Bali ini meyakinkan penggemarnya jika energi terbarukan tak hanya wacana. Konser sekitar 3 jam ini mengonsumsi sekitar 4000 watt energi yang dihasilkan sepenuhnya dari panas matahari, pada Senin (30/12) di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali.

Energi total yang dihabiskan masih menyisakan tabungan energi yang disimpan di batere, sekitar 8 buah dengan kapasitas 1700 watt per buahnya. Tabungan energi ini dimulai hanya sehari jelang konser. Bahkan inverter dan batere baru on pada Minggu sore sekitar pukul 16.00 WITA.

Pembangkit tenaga surya ini dibantu Agung Putradhyana, akrab dipanggil Gung Kayon. Pria asal Marga, Tabanan, Bali ini bersetia membumikan energi matahari sebelum isu perubahan iklim menghangat.

Gung Kayon dan personil band Nosstress, Nyoman Angga, Gunawarma, dan Tjokorda Bagus sudah memasang panel surya pada Sabtu sore, dua hari sebelum konser. Mereka mengatur tata letak 20 panel dengan kapasitas 100 watt per jam ini dengan bentuk setengah lingkaran. Sedikit ditinggikan di salah satu ujungnya dengan dongkrak kayu bekas sehingga panel ini terlihat oleh orang yang duduk di depannya.

Keesokan hari, baru dipasang inverter, sebuah alat yang akan mengubah tegangan sebelum disimpan ke batere. Gung Kayon hanya memerlukan sekitar 2 jam untuk memasang inverter di sebuah rak baja ringan, termasuk menyambungkan ke batere dan memasang stop kontak. Jadilah sebuah “sun-set”, istilah yang dia gunakan sebagai pengganti fungsi genset yang mengonsumsi bahan bakar minyak.

Seperangkat alat “sun-set” terdiri dari panel surya, inverter, dan batere penyimpan daya ini berfungsi bak genset namun dari energi terbarukan. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Seperangkat alat “sun-set” terdiri dari panel surya, inverter, dan batere penyimpan daya ini berfungsi bak genset namun dari energi terbarukan|Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Photovoltaics(PV), lebih populer dengan istilah panel surya atausolar cellmengubah energi cahaya jadi tegangan/voltase. Dalam cuaca cerah, satu panel bisa menghasilkan daya 100 watt/jam. Dengan 20 panel terpasang, dieprkirakan dapat 2000 watt/jam dengan penyinaran selama 4-5 jam efektif. Maka sekitar 8000 bisa dikonverai jadi listrik. Konverter mengubah tegangan darisolar celldan diturunkan ke batere. Perangkat ini juga bisa dihubungkan ke listrik PLN jika memerlukan.

Musim hujan dengan awan tebal tak jadi peghalang karena menurutnya PV ini diproduksi di negara subtropik yang disesuaikan dengan iklimnya. “Saya sudah lama ingin mengajak musisi berani menggunakan sunset ini,” Gung Kayon berseloroh. Karena itu ia terlihat antusias mewujudkan keinginan band Nosstress ini dalam konsernya. Ia meminjamkan alat-alat dan membantu pemasangannya.

Selain “sunset”, ia juga bantu mengembangkan ide seorang mahasiswa membuat alat perontok padi dari energi surya, disebut “sun-rice”. Bisa dipinjamkan dari satu kelompok petani ke kelompok lainnya saat panen karena digunakan di tengah sawah dan terik matahari. Sebelumnya ada alat pemotong rumput, tas charger, dan traktor energi surya.

Wajah-wajah sumringah personil band yang digemari anak muda sampai pedesaan ini terlihat jelang konser. Pukul 1 siang, puluhan penonton sudah mulai berdatangan ke lokasi konser di sebuah taman baca dan ruang kreatif di Jalan Sedap Malam, Denpasar ini.

Konser musik nosstress band di Taman Baca Kesiman, Denpasar ini juga berbagi panggung dengan penggemar yang membuat video menyanyikan lagu-lagu mereka. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Konser musik nosstress band di Taman Baca Kesiman, Denpasar ini juga berbagi panggung dengan penggemar yang membuat video menyanyikan lagu-lagu mereka|Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Konser peringatan 10 tahun lahirnya Nosstress ini membagi panggung dengan sejumlah penggemar yang memenangkan sayembara menyanyikan lagu Nosstress dengan gayanya masing-masing. Dari ratusan pendaftar, tampil 6 penyanyi solo dan duo. Mulai anak-anak, remaja, sampai dewasa.

“Ini tak hanya bentuk penyadaran, tapi juga perlawanan,” ucap Angga, pemetik gitar dan juru bicara Nosstress. Semua personilnya menjadi vokalis sambil memainkan alat musik. Ia mengingat makin banyak pembangkit listrik yang menggunakan energi kotor, dan menjadi konflik di lokasi pembangunannya.

Di Bali saat ini ada tuntutan hukum dari warga Celukan Bawang, Buleleng bersama Greenpeace menggugat pembangunan instalasi bari PLTU berbahan bakar batubara di PTUN Denpasar. Kasusnya masih di tingkat banding.

Demikian juga sejumlah daerah lain yang menyuplai listrik ke PLN dengan pembangkit berbahan batubara. Penolakan ini terutama karena menyalahi kebijakan pemerintah sendiri untuk tak menambah pembangkit batubara, dampak kesehatan dari polusi udara, dan lainnya.

Nosstress memperkirakan perlu energi listrik “sunset” ini untuk kebutuhan sound sekitar 1500 watt/jam. Untuk keamanan, cadangan energi surya di-set sekitar 2000 watt/jam. Saat mentari masih terik, daya langsung bisa digunakan tanpa menyimpan ke batere. Jika direncanakan konser 4 jam, maka diperlukan 8000 watt. “Ini pas, tidak berlebihan. Gunakan secukup yang diperlukan,” ajak Gung Kayon. Inilah menurutnya strategi penggunaan energi surya dan terbarukan lain karena alat-alatnya masih mahal jika mengikuti kebutuhan tanpa batasan.

Batere per unit yang beratnya lebih dari 50 kg ini mampu menyimpan daya 1700 watt/jam. Disiagakan 8 batere yang harganya di pasaran saat ini sekitar Rp2,5 juta.

Masalah energi adalah penyalahgunaan atau penggunaan tak terbatas. Misal jika di rumah atau kantor ingin memanen energi surya, perlu dihitung semua kebutuhan perangkat listrik. Terutama penyejuk udara atau AC yang perlu sedikitnya 750 watt/ jam. Berapa jam akan dipakai?

Mindsetkita harus menyesuaikan dengan ketersediaan. Kalau mengikuti kebutuhan tidak pernah cukup. Di Bali ketersediaan lebih dari cukup, tapi merasa kurang,” Gung Kayon mengajak refleksi.

Ratusan penonton konser musik Nosstress memperingati 10 tahunnya, mulai menonton siang untuk menunjukkan cara kerja energi surya, dengan langsung menggunakan daya di cell. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Ratusan penonton konser musik Nosstress memperingati 10 tahunnya, mulai menonton siang untuk menunjukkan cara kerja energi surya, dengan langsung menggunakan daya di cell|Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Gunawarma, personil Nosstress yang menciptakan lirik “Tanam Saja” juga mengaku terinsipirasi dari kisah seorang musisi dari Hawaii, Amerika Serikat, Jack Johnson. “Saya baca, ia menghitung emisi konser, menggunakan energi terbarukan,” serunya.

Dari sejumlah dokumentasi seperti laman Music for Good danalternet, musisi ini disebut sejak 2008 mengajak penggemarnya mengurangi sampah dan emisi jika berniat nonton konser. Misalnya mengurangi sampah anorganik, menggunakan transportasi publik, dan lainnya. Jack membuat sejumlah kampanye publik dan membuat sejumlah yayasan untuk itu. Ia juga menjadiGoodwill Ambassador for the United Nations Environment Program.

Untuk Nosstress, ini bukan kali pertama konser dengan energi terbarukan, namun pertama kali mengusahakan sendiri. Pada 2013 di Desa Poncosari, Bantul, Jogja, mereka konser dengan listrik dari solar panel dan angin di desa percontohan energi terbarukan ini. “Tapi saat itu hanya tahu saja, wah keren, asyik,” ingat Gunawarma. Ternyata setelah mengalami sendiri, menurutnya instalasi dan persiapannya tak rumit.

Desa Wisata Poncosari telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) panel surya dan kincir angin. Pada 2013, di desa itu sekitar 70 persen energi listrik di pesisir pantai menggunakan PLTH dan 30 persen masih disuplai dari PLN.

Sebelumnya pada 2012 juga ada kampanye penggunaan energi terbarukan oleh Greenpeace bersama sejumlah musisi Indonesia, salah satunya Navicula di Candi Borobudur. Sebuah panggung yang menggunakan panel surya,The Climate Rescue Station(CRS) mengampanyekan “Solarizing Borobudur”.

Solarizing Borobudur ini adalah inisiatif Greenpeace bekerjasama dengan Balai Konservasi Candi Borobudur, untuk mendorong pemerintah segera mengembangkan energi terbarukan memenuhi kebutuhan energi masa depan Indonesia. Sekaligus mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar fosil seperti batubara.


Sumber: Diposting ulangdari MongabayIndonesiaatas kerjasama dengan GNFI

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2019-01-02 21:48:00

Open in App