Exclusive from Good News From Indonesia

Pisang hingga Talas, Produk Siap Ekspor dari Bawah Rindangnya Hutan Desa Burno

Di bawah tegakan kayu hutan, petani Desa Burno menanami tanaman produktif di lokasi perhutanan sosial. Beberapa tanaman unggulannya adalah pisang
General
Thu Jul 18 2019 06:00:00 GMT+0000 (UTC)
  • Di bawah tegakan kayu hutan, petani Desa Burno menanami tanaman produktif di lokasi perhutanan sosial. Beberapa tanaman unggulannya adalah pisang emas kirana dan talas hutan.
  • Pisang emas kirana sekarang telah mampu menembus pasar domestik, bahkan sudah di ekspor ke luar negeri. Warna dan rasa membuat pisang ini disukai oleh konsumen.
  • Talas hutan atau mbothe juga menjadi komoditas andalan. Dari tadinya hanya tanaman liar, sekarang talas hutan dijual menjadi kripik.
  • Siti Khoriyah menjadi salah satu cerita sukses pebisnis kripik talas, dia mempekerjakan hingga 60 orang, dengan omzet usahanya mencapai Rp1-3 milyar perbulan.

Penguatan kelembagaan yang dilakukan oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Sari, di Desa Burno ternyata membawa dampak ekonomi positif. Dari bawah tajuk hutan mereka mulai memproduksi beragam komoditas, diantaranya pisang emas kirana dan talas.

Rasa yang manis dan warnanya yang khas membuat pisang emas kirana sekarang menjadi primadona. Menurut data Dinas Pertanian Lumajang, produksi pisang emas kirana mencapai 325 ton per tahun.

Pisang emas kirana yang dipasok petani ke PT Segar Sewu Nusantara didistribusikan ke berbagai supermarket di Malang, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta. Bahkan diekspor untuk memenuhi pasar luar negeri seperti Malaysia, Jepang dan Hongkong.

“Satu tandan harganya bisa sampai Rp 80-90 ribu,” sebut Mujazah, salah seorang petani pisang. “Satu tandan beratnya sekitar 7-8 kg. Agar bentuk fisiknya tetap baik, saat berbuah pisang dibungkus plastik.”

Dua kali seminggu dia dan rekan-rekannya mengirim 3,5 ton pisang ke distributor. Di Burno sendiri luas kebun pisang sekitar 67 hektar.

Pisang emas kirana yang sekarang menjadi primadona di Desa Burno. Agar mutu terjaga, pisang ditutupi kantong plastik di atas batangnya | Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia – INFIS

Mujazah menyebut sekarang pekerjaanya lebih ringan ketimbang dulu. Dia bekerja mulai pagi sampai siang, membersihkan lahan dan memberi pupuk kandang. Di bawah tegakan kayu hutan, pisang ditanam dengan jarak tanam 3 meter. Dalam satu hektar ditanami 350 batang pisang.

Selain di atas lahan hutan negara, di luar kawasan terdapat hutan rakyat seluas 357 hektar yang juga dikelola dan diberdayakan oleh masyarakat.

Dengan berkembangnya ekonomi dari jasa hutan, sekarang warga pun mulai menanami pepohonan di sekitar mata air. Area ini ditanami beragam tanaman penangkap air seperti beringin, aren dan bambu. Dampaknya sekarang mata air bertambah. Jika dulu hanya 83 sumber mata air sekarang bertambah menjadi 123 mata air.

Air menjadi kebutuhan penting. Tak hanya untuk minum bagi manusia, keberadaan air juga penting untuk ternak, termasusuk membersihkan, memandikan hingga kebutuhan minum ternak sapi perah. Sapi menjadi komoditas ternak andalan di Bruno.

Pisang yang siap dipasarkan | Foto Eko Widianto/Mongabay Indonesia – INFIS

Talas hutan yang naik Kelas

Nur Rahmat Sinto, adalah salah seorang anggota LMDH Wono Lestari. Dia memiliki lahan garap sekitar 5 hektar yang berada di bawah tajuk hutan. Dulunya lahan itu dia tanami singkong. Sekarang lahan dia tanami kopi, talas, rumput gajah sampai sengon.

“Harga singkong Rp2 ribu/kg. Satu hektar hasilnya 2,5 ton,” katanya. Dalam setahun hanya sekali dia bisa memanen singkongnya.

Tak dinyana, selain singkong tumbuh pula tanaman talas alias mbothe. Dulu, talas dianggap sebagai tanaman liar. Nyaris tak berharga, warga menyebut sebagai pakan babi hutan.

“Perawatan [talas] mudah. Hasilnya lumayan,” ungkap Nur.

Selain talas, Nur memiliki empat ekor sapi perah dan 17 kambing etawa varietas senduro. Dari beternak sapi, kambing dan talas dia mencukupi hidup keluarganya. Anak pertamanya sekarang dapat dia kuliahkan.

Bicara tentang talas, kiprah bisnis ini tak lepas dari nama Siti Khoriyah, asal Desa Senduro. Sejak lima tahun lalu dia membeli talas sebagai bahan baku keripik. Sekarang dia melibatkan sekitar 37 ribu petani yang tersebar di Lumajang, Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo dan Malang.

Siti mulai merintis pemasaran talas hasil petani anggota LMDH Wono Lestari. Kemitraan dengan para petani di pinggir hutan ini membawanya menjadi salah satu pemasok utama bahan baku keripik talas ke empat perusahaan di Jawa Barat dan Jakarta.

Tak salah jika sekarang warga menjulukinya Sang Ratu Talas.

“Dulu sekarung Rp 9 ribu sekarang bisa sampai Rp 200 ribu,” jelas Siti. Dampaknya, kini petani menanam talas secara intensif di lahan. Harga talas sesuai perjanjian kontrak adalah Rp3 ribu per kg, namun harganya dapat menyesuaikan dengan harga pasar yang ada.

Petani yang bekerjasama dengannya, Siti suplai dengan bibit dan permodalan. Dia juga menggandeng sejumlah perbankan untuk biaya produksi. Petani tak lagi mudah dililit utang rentenir.

“Saya ini hidupnya di sekitar hutan. [Saya merasakan] rata-rata warga hidup dalam kemiskinan. Sekarang pelan-pelan berubah,” katanya menjelaskan filosofi bisnisnya.

Siti Khoiriah menunjukkan kripik talas alias mbothe yang diproduksinya. “Sang Ratu Talas” memulai bisnis kripik talas di tahun 2006, sekarang omzet bisnisnya fantastis | Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia – INFIS

Dalam bisnis talas, dia melibatkan sebanyak 60 warga setempat yang dipekerjakan untuk tenaga pengupas talas. Setiap hari dia mengeluarkan uang hingga Rp10 juta untuh upah pegawai. Usahanya pun semakin maju.

Siti memulai bisnis talas sejak 2006. Sekarang omzetnya fantastis, antara Rp1-3 milyar per bulan. Dalam waktu dekat dia berencana untuk bertemu dengan calon pembeli dari Hong Kong dan Jepang. Siti sekarang mulai melirik ekspor sebagai pijakan masa depan bisnisnya.

Dia juga tengah mematangkan rencana membuka pabrik keripik talas di Lumajang. Dia tak mau hanya jadi jadi pemasok bahan baku. Alasannya membuka pabrik keripik lantaran bahan baku talas di Lumajang melimpah. Sumbernya berasal dari pinggir dan di bawah tajuk hutan.

Siti pun berharap agar talas dapat naik kelas dan menjadi produk unggulan Kabupaten Lumajang.

Video: Kemitraan Desa Hutan


Catatan kaki: Ditulis oleh Eko Widianto dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2019-07-18 09:54:00

Open in App