Exclusive from Good News From Indonesia

Abraham Damar, Anak Bangka Belitung yang Antarkan Stapac Juara IBL 2019

Abraham Damar Grahita, pemain berusia 23 tahun dari Bangka Belitung ini berhasil mengantarkan timnya, Stapac Jakarta menjuarai liga basket IBL 2019.
General
Tue Apr 02 2019 17:04:00 GMT+0000 (UTC)

Abraham Damar Grahita, pemain berusia 23 tahun dari Bangka Belitung ini berhasil mengantarkan timnya, Stapac Jakarta menjuarai liga basket IBL 2019. Melawan Satria Muda Pertamina Jakarta, Abraham dan timnya memenangkan dua laga final dengan skor 79-68 dan 74-56. Torehan ini juga menyudahi paceklik gelar selama lima tahun yang dialami oleh Stapac Jakarta.

Tak hanya menuntaskan puasa gelar, Abraham juga memiliki torehan yang tak kalah bagus. Di musim ini, Bram –sapaan akrabnya— berhasil menorehkan 174 poin, 54 total rebounds, 22 steals, serta 68 assists dari total 23 laga bersama Stapac Jakarta di musim ini.

JAWARA: Performa Abraham yang konsisten berkontribusi menghentikan paceklik juara tim Stapac Jakarta. (Photo Credit: Alexander Anggriawan/DBL Indonesia)
JAWARA: Performa Abraham yang konsisten berkontribusi menghentikan paceklik juara tim Stapac Jakarta. Credit: Alexander Anggriawan/DBL Indonesia

Rentetan prestasi diraih Abraham di sepanjang karirnya. Pada musim 2017 lalu, dia menyabet predikat Most Improved Player IBL 2017. Pemuda asal Bangka Belitung itu juga ikut mengantarkan Indonesia meraih gold medal pada SEABA Championship 2018.

Bersama Timnas Basket Indonesia, Bram ikut mempersembahkan medali perak di SEA Games 2017 di Malaysia. Dia juga menjadi andalan di Asian Games 2018 lalu di Jakarta.

Meski begitu, banyaknya prestasi yang diraih oleh Abraham tidak membuatnya jemawa. Bahkan ia selalu ingat bagaimana dan seperti apa perjuangannya sebelum sampai disini.

“Di Bangka, basket menjadi olahraga yang dimainkan di kampung. Sama seperti sepak bola di Indonesia. Meski kita memiliki keterbatasan dalam berlatih dan bermain. Tak hanya lapangan yang kurang memadai, sepatu juga menjadi kendala kami dalam bermain basket,” ujarnya.

Ya, di Bangka Belitung, lapangan yang digunakan sebagai bermain harian bukanlah lapangan beralaskan kayu atau bahkan lantai khusus untuk olahraga. Melainkan lapangan yang dibuat dengan cor semen dan beton. Sehingga, salah jatuh bisa sangat fatal.

Selain itu, sepatu juga menjadi salah satu kendala yang ada disana. Bahkan, anak-anak yang bermain basket lebih memilih bermain tanpa alas kaki. Hal ini dikarenakan harga sepatu yang mahal dan susah didapat.

“Bahkan, sepatu basket itu hanya dipakai kalau pertandingan saja. Kalau main atau latihan harian lebih sering bermain tanpa alas kaki,” tambahnya.

SIGNATURE SHOES: Sepatu Abraham Damar merupakan signature shoes miliknya yang baru saja dikeluarkan tahun ini, hasil kolaborasi DBL Indonesia dan Ardiles. (Photo Credit: DBL Indonesia)
SIGNATURE SHOES: Sepatu Abraham Damar merupakan signature shoes miliknya yang baru saja dikeluarkan tahun ini, hasil kolaborasi DBL Indonesia dan Ardiles. (Photo Credit: DBL Indonesia)

Kini, kerja keras yang dilakukan Abraham Damar membuahkan hasil. Tak hanya membawa timnya juara, Abraham juga mendapatkan signature shoes-nya sendiri. Dia jadi pebasket pertama di Indonesia yang punya signature shoes, yaitu AD 1 dari DBL Indonesia dan Ardiles.

“Saya cuman anak dari Bangka. Kotanya kecil. Nggak ada fasilitas latihan basket yang layak. Tapi saya bisa. Kalau saya bisa, siapapun pasti bisa. Asalkan ada niat dan kerja keras,” ujar Abraham.

Sumber: DBL Indonesia

Penulis: DBL INDONESIA
Dirilis pada 2019-04-02 15:00:00

Open in App