Exclusive from Good News From Indonesia

Legalkan LGBT, Benarkah Bentuk Toleransi?

LGBT, manusia homoseksual pemilik hak asasi manusia sepenuhnya yang keberadaannya masih sering diragukan bahkan didiskriminasi. Kritisi kembali, apakah perlu adanya toleransi?
General
Sat Dec 07 2019 07:17:00 GMT+0000 (UTC)

Lesbian, gay, bisex, dan transgender atau biasa disebut dengan LGBT adalah jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas.

Dasar dari gerakan ini adalah dimulainya gerakan emansipasi bagi kalangan homoseksual yang menuntut keadilan dan pengakuan atas eksistensi mereka di Amerika Serikat pada tahun 1960-an.

LGBT merupakan hal yang sudah tidak tabu dibicarakan. Banyak isu-isu yang terangkat mengenai LGBT baik di dalam maupun di luar negeri. Sudah banyak orang-orang yang tergolong dalam LGBT tidak merasa malu bahkan banyak dari mereka yang mengakui dirinya adalah LGBT

Perasaan suka terhadap sesuatu merupakan hak setiap individu, sebab sejatinya manusia diciptakan dengan dilengkapi dengan perasaan. Termasuk dalam menyukai sesama jenis yang mana perasaan itu timbul tanpa adanya kesengajaan.

Secara akal, orang-orang yang tergolong LGBT secara pasti tidak ingin dilahirkan untuk menjadi LGBT. Dengan kata lain, mereka ingin menjadi manusia yang normal, yang memiliki perasaan untuk suka terhadap lawan jenisnya.

Tetapi terdapat naluri yang terbentuk dalam diri manusia khususnya mengenai perasaan menyukai sesama jenis yang tidak dapat dihilangkan, meskipun mereka sudah fight untuk menolak, sehingga membuat mereka do their way menjadi seorang LGBT.

Terdapat banyak anggapan terkait dengan homoseksual atau LGBT ini. Beberapa beranggapan bahwa LGBT merupakan penyakit dikarenakan seseorang dengan homoseksual memiliki kelebihan kromosom di dalam tubuhnya, sehingga menyebabkan seseorang tersebut memiliki sifat atau kepribadian yang menyerupai lawan jenisnya.

Beberapa orang juga beranggapan bahwa homoseksual merupakan pilihan seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar, banyak komunitas - komunitas LGBT yang terdapat di Indonesia menyebabkan seseorang dapat dengan mudah dipengaruhi kehidupan atau lifestyle yang terdapat di dalam komunitas tersebut, sehingga menyebabkan seseorang memutuskan untuk menjadi bagian dari komunitas tersebut dan memutuskan untuk menjadi LGBT.

Terlepas dari penyakit atau kelainan dan pilihan atas pengaruh lingkungan, seseorang dengan titel LGBT tetap merupakan manusia yang utuh dan membawa Hak Asasi Manusia sejak kelahirannya.

Setiap orang mempunyai hak asasi di mana manusia lainnya berkewajiban untuk merangkul dan menghargai hak tersebut. Perasaan suka terhadap sesuatu merupakan fitrah manusia, termasuk dalam menyukai sesama jenis.

Kaum LGBT berhak menyuarakan keadilan dari masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap keberadaan mereka, karena konstitusi tidak secara eksplisit membahas orientasi seksual atau identitas gender.

Ini dilakukan untuk menjamin semua warga dalam berbagai hak hukum, termasuk persamaan di depan hukum, kesempatan yang sama, perlakuan yang manusiawi di lingkungan masyarakat, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, berkumpul secara damai, dan berserikat.

Namun, baru-baru ini terdapat RUU KUHP yang kemudian disahkan oleh DPR RI mengenai LGBT di mana dalam Rancangan Undang-Undang disebut sebagai perbuatan cabul terhadap orang lain berbeda atau sesama jenis akan dikenakan pindana paling lama 9 tahun.

"Yang dimaksud dengan 'perbuatan cabul' adalah segala perbuatan yang melanggar norma kesusilaan, kesopanan, atau perbuatan lain yang tidak senonoh, dan selalu berkaitan dengan nafsu birahi atau seksualitas," demikian penjelasan Pasal 421.

Di sisi lain, melirik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dikenal dengan negara demokrasi, negara yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia di mana telah banyak diatur dalam Undang-Undang dapat menjadi pertimbangan untuk menerima keberadaan kaum LGBT.

Mereka tetap memiliki hak, sebab ketika para kaum LGBT memutuskan untuk menjadi berbeda tidak berarti mereka tidak lagi memiliki hak untuk menjadi orang yang baik.

Hak-hak mereka perlu dan wajib untuk dihargai dan tidak layak bagi seseorang untuk melakukan diskriminasi atas perubahan kepribadian mereka, sebab menjadi bagian dari LGBT bukan suatu pengaruh buruk, bukan merupakan sebuah pilihan, tetapi keputusan menjalani hidup untuk menjadi diri sendiri.

Indonesia merupakan negara majemuk di mana masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai macam perbedaan. Perbedaan tersebut menjadi dasar untuk menjunjung tinggi persatuan, mulai dari suku, ras, agama yang menjadikan berbagai macam bentuk kepribadian manusia yang dibawa oleh setiap individu bernama hak asasi manusia.

Setiap warga negara memiliki hak untuk menjadi apa yang mereka putuskan atas dirinya, termasuk menjadi bisex, gay, lesbian, dan lain - lain.

Setiap hak mensyaratkan adanya kewajiban, di mana kewajiban tersebut harus dilaksanakan untuk memperoleh sebuah hak, menghargai dan menghormati pilihan orang lain merupakan kewajiban manusia, sehingga apapun yang telah diputuskan oleh seseorang wajib bagi kita untuk menghargainya.

Seseorang memiliki keputusan atas prinsip-prinsip kehidupan masing-masing, maka dari itu, setiap manusia perlu menumbuhkan kesadaran untuk tidak melakukan diskriminasi atas ketidaksesuaian prinsip hidup satu dengan yang lainnya.

Dengan adanya kesadaran untuk menghargai perbedaan prinsip hidup, dapat menumbuhkan benih toleransi yang merajut integrasi dalam negeri.

Penulis: KARINA MEI
Dirilis pada 2019-12-07 10:00:00


Smart City Software
Open in App